maka888
LIVEKata "maka" menandai arah dari pangkal menuju hasil: bagian sebelumnya menyebut keadaan atau sebab, sedangkan bagian sesudahnya menyatakan akibat yang mengikuti. Dalam pengelompokan konjungsi, "maka" termasuk konjungsi subordinatif hasil, sementara "karena" dan "sebab" termasuk konjungsi subordinatif sebab [2].
Dari pangkal menuju akibat
Kalimat majemuk terdiri atas lebih dari satu klausa dan biasanya menggunakan konjungsi untuk menghubungkan klausa-klausa itu [1]. Dalam fungsi sebagai penghubung hasil, "maka" menautkan bagian-bagian tersebut dengan menonjolkan apa yang terjadi sesudah suatu keadaan [2].
Contoh rekaan: "Akses utama gedung itu ditutup, maka peserta diarahkan melalui pintu samping." Klausa pertama menjadi pangkal, sementara klausa berikutnya menyatakan hasil yang mengikuti. Hubungan ini juga dapat dibaca dengan pertanyaan sederhana: apa yang terjadi setelah keadaan pertama muncul?
"Maka" berbeda dari penghubung alasan
Bandingkan dua susunan ini: "Peserta diarahkan melalui pintu samping karena akses utama ditutup" dan "Akses utama ditutup, maka peserta diarahkan melalui pintu samping." Pada kalimat pertama, "karena" memperkenalkan alasan. Pada kalimat kedua, "maka" mengantar hasil. Pembedaan ini sejalan dengan pengelompokan "karena" dan "sebab" sebagai konjungsi sebab, serta "maka" sebagai konjungsi hasil [2].
Jadi, jika yang ingin dijelaskan adalah mengapa suatu peristiwa terjadi, pilih penghubung alasan. Jika yang hendak ditonjolkan adalah apa yang mengikuti peristiwa itu, "maka" lebih tepat untuk menunjukkan arah hubungan tersebut.
Ketika yang dibutuhkan adalah penanda simpulan
"Oleh sebab itu" dan "dengan demikian" memberi pilihan lain ketika kalimat baru menghubungkan simpulan dengan uraian sebelumnya. Keduanya dicontohkan sebagai konjungsi antarkalimat, yaitu penghubung antara kalimat yang berbeda dan biasanya berada di awal kalimat kedua [2].
Contoh rekaan: "Akses utama gedung itu ditutup. Pintu samping masih dapat digunakan. Dengan demikian, peserta diarahkan melalui pintu samping." Di sini, kalimat terakhir merangkum langkah yang ditarik dari keterangan sebelumnya. Sebaliknya, "maka" dalam contoh sebab-akibat tadi menghubungkan bagian yang menyatakan pangkal dan hasil di dalam satu rangkaian kalimat. Hubungan makna keduanya bisa berdekatan, tetapi bentuk hubungan yang ditonjolkan berbeda.
Tiga pertanyaan untuk memilih penghubung
- Apakah kalimat menjelaskan alasan suatu peristiwa? Gunakan penghubung seperti "karena" atau "sebab" [2].
- Apakah kalimat menyatakan hasil yang mengikuti keadaan sebelumnya? "Maka" dapat menandai hubungan hasil itu [2].
- Apakah kalimat baru menarik simpulan dari keterangan sebelumnya? "Oleh sebab itu" atau "dengan demikian" dapat menghubungkan kalimat-kalimat tersebut [2].
Dengan melihat bagian mana yang menjelaskan alasan, bagian mana yang menyatakan akibat, dan apakah simpulan dimulai dalam kalimat baru, fungsi "maka" lebih mudah dibedakan dari penghubung yang lain.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Kalimat. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=27584597&title=Kalimat (diakses 2026-10-03).
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Konjungsi (linguistik). https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29313025&title=Konjungsi_%28linguistik%29 (diakses 2026-10-03).